Tetangga Meresahkan #3

bisnis

 

Dewii Kamaya


#part 3

Bangun tidur, Ismi dan Sari belanja berdua ke pasar, kebetulan ada Mita juga di depan kamarnya. 
“Eh, Mbak, mau ke pasar, ya! Nitip belanjaan, dong!” 
“Nitip apa, Mbak?” tanya Ismi terpaksa.
“Belikan tongkol separo sama cabe tomat, dikit itu aja, kok.”
“Oh, iya, mana uangnya?” tanya Ismi. 
“Pakek uang Mbak dulu, ya! Nanti tak ganti, aku belum ke ATM.” Mita berkata tanpa sungkan. 
“Oh, tidak bisa … kalau mau nitip sama uangnya sekalian, kalau belum ada duitnya, Mbak Mita belanja aja sendiri nanti setelah dari ATM, ayo Mi buruan!” sahut Sari. Sari tahu betul bahwa Ismi tipe orang yang gak enakan dengan orang lain, sebelum itu terjadi mending mereka berangkat belanja duluan. Enak aja hari gini mau gratisan. 
Mereka belanja dengan sangat buru-buru karena mereka ingin menyaksikan live teriakan Mita saat tragedi luluran. 
Setelah kedua ibu-ibu itu pergi, Mita membuka kulkas, ada bandeng presto dan saos sambel, dari pada beli mending makan itu, batinnya. Dia menggoreng bandeng presto itu kemudian memasukkannya ke dalam kamar. Setelah kenyang, dia menyahut handuk dekil miliknya, karena gara-gara Sari seluruh handuk di muka bumi sudah dimasukkan ke dalam kamar masing-masing. 
“Pelit banget timbang pinjem handuk, aku juga pasti balikin, kok!” gerutunya. 
Cindy masih tidur, bocah itu bangunnya selalu siang, jadi Mita bisa berlama-lama menggosok tubuhnya dengan lulur milik tetangga, mumpung mereka sedang ke pasar. 
Melihat satu pintu kamar mandi tertutup, Ismi dan Sari langsung menunggu di depan kamar mandi, mereka membiarkan belanjaannya tergantung di motor. 
Perlahan Mita menggosok kaki kemudian naik ke bagian tubuh lain, dia mencium aroma lulur yang biasanya segar berubah menjadi sedikit aneh, tapi dia menghiraukannya dan asik menggosok lengannya. 
“Kok agak panas, ya!” gumamnya. Dia menciumi lulurnya. Semakin lama semakin terasa hangat dan lama-lama menjadi panas di kulit, apa lagi dia menggunakan juga di wajahnya. 
“Aduh, kok, makin cekit-cekit gini,” ujarnya sambil mengguyur tubuhnya. Sari dan Ismi terkikik geli mendengar suara Mita yang terus mengomel tak katuan. 
Mereka membubarkan diri kala tak lagi mendengar suara guyuran. Mereka memasak sarapan untuk keluarga masing-masing. 
“Eh, Sar, kamu lihat bandeng di frezer, gak?” 
“Bandeng apa, orang aku gak buka-buka frezer, kok.”
“Ih, ada bandeng di sini tinggal satu ekor, tapi kemana kok gak ada?” tanya Ismi.
Sari mencebik sambil menunjuk ke kamar Mita menggunakan dagunya. Tawa Ismi pecah.
“Kok malah ketawa, Mi?”
“Jangan-jangan dimakan sama dia? Itu bandeng udah lama banget, aku cari-cari karena mau aku buang, orang aku masukin ke sini sekitar tiga bulan yang lalu, emang hidungnya gak nyium bau gak sedap apa gimana tuh orang, rencananya mau aku kasih ke kucing, eh, tahunya diembat.”
“Haha, biar aja dia mules, itu juga kalau mules, jangan-jangan bakteri udah kebal sama dia.” Jawab Sari sambil mengaduk sayurnya. 
***
Yuda, Fahmi dan Boby ngobrol santai di teras, anak-anak pun tak ketinggalan, Nando dan Aqil asik bermain mobil-mobilan, Cindy datang dengan muka awut-awutan duduk di depan para om-om itu, aroma pesing bercampur bau apek kasur menusuk indra penciuman. 
“Jorok amat bocah! Mandi sono!” ujar Yuda sambil menendang kecil pantat Cindy. 
“Enggak!” jawabnya cuek sambil memakan permen kaki kegemarannya. 
“Heh, jangan di sini, Lu! Jorok ileran, pesing lagi, sono Lu!” Yuda terus saja mengusir Cindy. Kedua bapak tersebut hanya terbahak melihat ekspresi wajah Cindy yang hampir menangis. 
“Itu mainanku!” ujar Aqil sambil menarik mobil pemadam kebakaran miliknya. 
“Mama ….” Cindy berteriak memanggil mamanya. Mita keluar dengan kaos oblong sepaha tanpa celana dengan wajah panik menghampiri mereka. 
“Pinjam, ya, Dek Aqil, sebentar saja biar Mbak Cindy gak nangis,” kata Mita sambil merebut mainan dari pelukan Aqil. Bocah berusia tiga tahun itu langsung menangis histeris, ibu-ibu yang sedang berada di dapur spontan berlari menghampiri mereka. 
“Jangan ngerebut gitu, dong, Mbak! Anak saya nangis, nih!” gerutu Fahmi. 
“Ya, bilang dong sama anaknya suruh berbagi, ajari anak berbagi gak pelit sama mainan, anak saya juga nangis, tuh!” omel Mita. 
“Enak saja nyalahin anak saya! Beliin sendiri, dong! Jangan maunya minta punya orang, wajar anak saya mempertahankan haknya orang itu milik Aqil, harusnya Mbak bilang sama anaknya, sudah gede, tahu mana yang miliknya dan bukan! Jangan mental gratisan terus!” sahut Sari sambil membawa sutil. 
Ismi menahan tawa melihat wajah dan kaki Mita yang merah-merah akibat ramuan lulur mereka. Walaupun tidak sesuai ekspektasi dia berteriak kepanasan setidaknya membekas merah, lah, dan bisa dipastikan itu gatal bercampur perih karena terbuat dari detergen yang ditambah air dan balsem. 
“Sukurin, Lu! Lawan binik gue, yang nangis anaknya, yang dikatain emaknya, yang kena mentalnya. Haha.” Fahmi tertawa puas. 
Ketika hari libur tiba, mereka memang menghabiskan waktu di kos sambil bercengkrama dengan keluarga, Ismi dan Sari keluar membeli es buah, mereka mengajak serta anak-anaknya dengan berjalan kaki. 
Mita sengaja menggunakan body lotion di depan pintu kamarnya dengan memakai pakaian terbuka, Yuda yang sedang di depan kamar menjadi tak nyaman, dia masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya. 
Boby merasa sial, baru saja hendak ke kamar mandi, dia melihat pemandangan menggelikan. Tetangga barunya menggunakan celana super pendek dengan pose diseksi-seksikan seperti iklan di TV. 
“Ngapain, Mbak kedip-kedip gitu?” 
“Aduh, kelilipan, Mas, coba tiupin, dong!” 
“Ih, ogah, nungguin istri saya saja, nanti jadi fitnah.” 
“Alah, takut istri Mas Boby cemburu, kan? Kalau istrinya cemburu berarti saya terlalu menarik dimata istri Mas Boby.” Dia berkata dengan percaya dirinya. 
“Idih, saya mah gak bakalan cemburu kalau bibitnya kayak Mbak Mita, mah! Cuma saya heran aja, ternyata bibit pelakor jaman sekarang itu gak perlu cantik, asal gatel aja udah cukup!” ucap Ismi. Boby menutup mulutnya menahan tawa. 
Yuda merekam mereka secara diam-diam dan membagikannya di grup WA kosan dengan caption, [perang mental emak-emak vs emak-emak, manakah yang lebih ungul?] 
Mita hanya diam, kemudian menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam kamar. 
Yuda memang mengumpulkan uang koin untuk dibawanya pulang kemudian diberikan kepada adiknya, kadang kala terkumpul dua ratus, atau tiga ratus ribu, sekarang semenjak ada Cindy, dia menyembunyikan uang koinnya. Bagaiman tidak, tangan kecil mungil itu begitu cekatan jika melihat uang tergeletak dan membawanya pulang. 
“Om, minta duit!” 
“Minta mamamu sana!” kata Yuda. 
“Mama pergi, aku disuruh titip sama, Om.” 
“Sembarangan! Ogah banget, Lu jorok!” kata Yuda. 
“Mamaaaa, Om Yuda gak mau dititipin aku!” 
“Titip sebentar, dong, Mas! Aku pergi sebentar.”
“Ogah! Aku juga mau keluar!” 
“Sebentar aja, plis!” 
“Ogah, Mbak, sono bawa aja. Tetangga ngerepotin amat!” 
Mita mendesah, kamu mainan aja di sini nanti minta makan sama tante atau Om lain, ya!” pesan Mita.  
“Ikut!” ujar bocah itu sambil menghentak-hentakkan kakinya di tanah.
Mita akhirnya tak jadi keluar, dia memilih menemani putrinya di kosan. Setiap jam tiga sore, di depan kosan ada banyak sekali anak-anak yang main di sana sambil melihat ikan. Kebetulan di depan kos ada empang ikan lele milik tetangga. 
Nando dan Aqil bermain sepeda di sana karena Nando memiliki sepeda khusus untuk di kosan. Seperti biasa, bocah-bocah itu rebutan sepeda. Cindy merebut sepeda Nando dan mengayuhnya dengan kencang menabrak Mita yang sedang asik bertelepon ria di pinggir empang, ibu dan anak itu tercebur ke dalam empang lele yang airnya berwarna hijau lumut. 
Bapak-bapak yang ada di lokasi membantu mereka keluar dari empang yang tak dalam itu. Ismi dan Sari terbahak melihat kejadian itu. 
Ternyata, bukan hanya mereka saja yang terganggu, tetangga kos lain juga terganggu dengan ulah Cindy, dia sering celamitan mengambil sendal anak-anak lain yang berada di kos itu, tentu saja itu meresahkan. Mau lapor kepada Bu Kos juga percuma, karena di kos tersebut mereka sudah membayar penuh selama setahun. 
****
BERSAMBUNG . . .
Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Tetangga Meresahkan #2

Next Post

5 Cara Jitu Mengatasi Komplain Pelanggan dengan Baik

Related Posts