Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas! #2

bisnis

Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas!

#BAB 2

“Aaaaa … aaaa … aaaa ….” teriak ibu saat aku melintas di depan kamar beliau yang pintunya terbuka lebar.

Seperti biasanya, itu kode jika ibu menginginkan sesuatu. Bukan ingin BAB atau BAK karena jika ingin melakukan dua hal itu, ibu cukup membuangnya di tempat tidur lalu Andin akan buru-buru membersihkan.

Kode itu berarti ibu ingin minum atau makan, yang kedua-duanya harus disuapkan dengan telaten.

Mendengar teriakan ibu itu, bergegas aku memanggil Andin yang barusan kulihat sedang membersihkan diri di kamar mandi.

Aku sendiri sedang buru-buru karena Mila sudah menungguku di apartemen, hendak mengajakku sama-sama hunting baju baru di butik.

“Din, Andin. Ini ibu manggil-manggil. Pengen makan mungkin!” teriakku pada Andin yang masih berada di dalam kamar mandi.

Mendengar teriakanku, Andin diam saja. Tumben? Biasanya istri penurutku itu akan cepat-cepat datang untuk melaksanakan perintahku. Tapi kali ini kelihatannya tidak meski aku yakin Andin pasti mendengar seruanku.

“Din? Andin?”

Ceklek. Pintu kamar mandi terkuak. Andin muncul dengan handuk melilit kepalanya.

“Ada apa, Mas?” tanyanya datar sambil dengan acuh tak acuh mengeringkan rambut lalu menggantung handuk di kapstok.

“Itu ibu manggil-manggil. Mungkin minta makan, Din,” jawabku.

“Terus?”

“Terus? Maksudnya?” Aku mengernyitkan kening. Merasa heran dengan pertanyaan istriku itu. Apa perlu aku mengingatkannya untuk memberikan ibu makan?

Selama ini toh ia sudah tahu dan paham tugas itu tanpa harus diingatkan lagi?

“Kalau ibu minta makan terus kenapa? Hari ini Mas libur kerja kan? Apa nggak bisa Mas yang suapin ibu makan?”

tanya Andin sembari membuka lemari pakaian lalu memilah-milih baju.

Lho, memangnya ia mau ke mana? Biasanya di rumah juga cuma dasteran. Tapi kenapa sudah dasteran kok masih mencari baju yang lain lagi?

“Mas yang suapin? Kan biasanya juga kamu yang nyuapin? Kok jadi mas?” Aku kembali mengernyitkan dahi menatap bingung istriku.

“Iya, itu kan kalau mas kerja. Kalau mas libur, apa salahnya gantian? Toh, itu ibu mas sendiri kan? Aku mau jalan sekali-kali Mas, suntuk di rumah terus. Hidup kan harus seimbang. Ada saat capek ada saatnya refreshing. Lagipula sudah lama aku nggak keluar. Pengen beli baju, Mas,” ucap Andin sembari mengambil selembar gamis dan mematutnya di depan cermin.

Gamis itu seingatku dibelinya dua tahun yang lalu saat hendak lebaran. Masih terlihat baru karena memang jarang dipakai. Meski harganya tidak mahal, tetapi karena jarang dipakai jadi masih terlihat bagus. Lalu untuk apa lagi Andin ingin beli baju baru kalau yang lama juga masih bagus?

“Tapi, mas juga mau keluar, Din. Mas ada janji sama rekan bisnis, ada tender yang mau dibicarakan siang ini. Kamu aja urus ibu, ya?” kelitku beralasan supaya Andin batal keluar sehingga acara jalan-jalanku bersama Mila tidak terancam gagal.

Namun, melihat ekspresi datar wajah Andin, aku terpaksa menelan ludah.

Aku tahu watak istriku yang tidak banyak bicara dan tidak banyak permintaan ini.

Namun, jika ia sudah punya keinginan, pantang ditolak. Kalau tidak, bisa sebulanan ia ngambek hingga bisa-bisa ibu terlantar karena Andin tak mau lagi mengurus beliau.

“Setiap hari Mas keluar, sedangkan aku? Coba Mas hitung dalam satu tahun ini pernah nggak aku keluar dan ninggalin ibu sendirian? Aku juga manusia biasa, Mas. Punya rasa capek dan lelah. Pengen refreshing sekali-kali.

Aku sudah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik di rumah ini. Tapi, kalau Mas nggak puas juga silahkan Mas cari yang lain. Aku nggak masalah dan nggak keberatan sama sekali kok,” ujarnya datar lalu tanpa menghiraukan protes dariku, Andin membuka dasternya dan menggantinya dengan gamis di tangannya.

Mendengar perkataannya, aku hanya bisa menutup mulut dengan rasa kaget yang tidak bisa kusembunyikan.

Andin, ada apa dengan istriku itu hingga tiba-tiba sikapnya berubah dingin dan ketus seperti ini???

BERSAMBUNG . . .

Klik Link ini untuk Lanjut ke bab berikutnya 

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas! #1

Next Post

Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas! #3

Related Posts