Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas! #3

bisnis

Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas! 

#BAB 3

“Mas, aku pergi dulu ya. Tolong jaga Sekar dan Seruni. Aku nggak akan lama. Paling mau ke butik Jeng Dina aja.

Lihat-lihat koleksi terbarunya yang kemarin dipajang di Instagram,” ucap Andin sembari menyampirkan tas di pundak lalu bersiap pergi.

Aku yang sedang menyuapi ibu bubur nasi, hanya bisa melongo heran.

Aneh.

Tak biasa-biasanya Andin begini, ingin pergi ke butik segala untuk belanja pakaian.

Biasanya ia hanya akan menunggu setahun sekali untuk beli baju baru, itu pun cuma beli di kios kaki lima pinggir jalan, bukan di butik seperti ini. Apalagi butik milik Jeng Dina, seleb kompleks perumahan yang punya bisnis toko pakaian besar di kota ini.

Satu pertanyaan lagi, alasan apa sih yang tiba-tiba membuat istriku berubah drastis secepat ini? Dari istri kampungan dan tak bisa dandan, menjadi istri yang tiba-tiba peduli fashion, sampai hendak ke butik segala.

Ya. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri Andin hingga dia yang biasanya penurut dan tak pernah menuntut apa-apa kini seolah menjelma menjadi istri yang banyak maunya. Belum lagi sikapnya yang mendadak jadi dingin, sedingin salju dan ketus dalam berbicara. Ada apa ini???

Dan … si*l! Harusnya aku yang pergi ke butik bersama Mila, bukan dirinya. Tapi apa daya, karena sibuk memikirkan perubahan sikap Andin yang begitu luar biasa ini, aku jadi luput mencegah kepergiannya sehingga jadilah rencanaku pergi bersama Mila gagal total.

“Oh ya, aku boleh pinjam ATM-nya Mas? Karena ATM-ku nggak berlaku lagi, harus ganti yang baru dulu baru bisa digunain lagi. Masalahnya aku belum sempat ke bank, Mas. Jadi, sementara aku bawa ATM mas aja ya buat belanja.

Tenang, nggak akan habis dua puluh juta kok,” ucapnya datar.

“Maksudnya?” Aku memicingkan mata, tak suka dan merasa semakin aneh mendengar perkataannya itu.

Ah, apa jangan-jangan Andin tahu ya kalau aku baru saja mentransfer uang pada Mila sebesar nominal itu hasil dari menang tender proyek kemarin ya?

Tapi tidak mungkin! Andin tak pernah sekalipun menyentuh ponselku apalagi mengetahui sandinya. Lalu bagaimana bisa ia tahu kalau aku baru saja memberi Mila sejumlah uang sebanyak itu?

Ia istri yang polos dan tak banyak menuntut. Tak mungkin berbuat macam-macam seperti kebanyakan perempuan lain. Jadi, tak perlu rasanya aku menjatuhkan rasa curiga secara berlebihan kepadanya.

“Nggak papa, Mas. Ya, sudah ya. Aku pergi dulu. Nanti nggak selesai-selesai kalau nggak pergi-pergi. Mana ATMnya, nanti aku kembalikan lagi,” ujarnya sembari mengulurkan telapak tangan hingga aku terpaksa merogoh dompet dan mengeluarkan benda itu dari dalamnya.

Andin menerima dengan wajah datar tetapi netranya fokus menatap ke arahku.

“Password-nya? Masih yang lama, Mas?” tanyanya.

Ya, Tuhan. Bagaimana ini? Password-nya baru saja kuganti!

Password lama ATM itu adalah tanggal pernikahan kami, tetapi sejak menikah dengan Mila sebulan lalu, password itu sudah kuganti menjadi tanggal pernikahanku dengannya, atas permintaan Mila.

Ah, bagaimana ini? Gawat kalau Andin sampai marah dan curiga akibat password ATM itu telah kuganti menjadi tanggal pernikahanku dengan Mila. Bisa-bisa ia ngambek dan tak mau lagi merawat ibu selama-lamanya.

“Kenapa, Mas?”

“Emm … password-nya udah kuganti, Din. Kan kita disuruh sering-sering ganti password supaya nggak dibobol orang,” kelitku berusaha membuatnya tidak curiga.

“Oh. Jadi berapa nomornya?” tanyanya dengan suara datar.

Aku menyebutkan sederet nomor yang kuingat di luar kepala yang membuat sejenak wajah Andin berubah.

“Oh, itu bukannya tanggal saat Mas pamit keluar kota kemarin terus nggak pulang-pulang ya? Tahu-tahu posting foto lagi di Bali? Ya, udah. Aku bawa dulu. Jangan lupa kalau ibu BAB dan BAK, tolong dibersihkan ya!”

BERSAMBUNG . . .

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Aku Menyerah Menjadi Istrimu, Mas! #2

Next Post

6 Rahasia Menumbuhkan Bisnis Berbasis Rumahan

Related Posts