Sandal Jepit Cinderella #3

bisnis
Puspa Markhip
 #BAB 3

Usai menata berkat aqiqah bersama Atika dan dibantu beberapa santri, Queen mendekati Mama dengan lesu. 
“Pulang yuk, Ma,” ajaknya sambil bergelayut pada tubuh mamanya.
“Kamu ini apa-apaan sih, Win. Acara mulai saja belum masa sudah minta pulang.” tegur Mama.
Queen tertunduk, “Tapi, Ma, Queen ngerasa gak enak badan.” 
Mama memutar bola matanya mendengar alasan putrinya. “Jangan mengada-ada deh, gak enak sama Budhe Rosyidah, Win.”
Queen membenamkan kepalanya di dada sang Mama. “Tapi, Queen beneran pusing, Ma. Queen pengen pulang.”
Mama menyentuh kening putrinya menggunakan punggung tangannya. Keningnya berkerut merasakan dahi Queen panas. “Kamu beneran demam kayaknya.”
“Mama sih, sama anaknya sendiri gak percayaan,” gerutunya.
“Ya, udah kalau gitu istirahat dulu aja. Mama mau pinjam salah satu kamar biar kamu bisa tiduran.”
“Kenapa gak pulang aja sih, Ma?”
Mama menuntun tubuh Queen. “Iya nanti kita pulang setelah acara selesai. Kamu kayaknya perlu minum obat juga, Win.” Queen tidak lagi menjawab, ia memejamkan mata untuk mengurangi rasa pusingnya. Matanya berair, tubuhnya terasa panas.
Queen memang berusaha bersikap wajar ketika bertemu dengan Amru, ia berusaha menepis segala perasaannya. Hanya saja psikisnya tidak bisa menerimanya. Hal tersebut berimpas pada kondisi fisiknya.
Queen tidak menyangka, bertemu kembali dengan pria yang empat tahun ini mati-matian dihindarinya ternyata sangat mempengaruhinya.
Bukannya Queen tidak tahu jika diam-diam mata Amru tidak pernah berhenti memerhatikannya selama gadis itu membantu Atika dan para santri di dapur, hanya saja ia pura-pura tidak tahu.
Queen mati-matian menekan rasa gelisahnya oleh mata elang pria itu yang mengingatkannya pada kejadian empat tahun silam.
Amru memang tidak mengajaknya bicara sepatah kata pun, tetapi bukan berarti Queen merasa baik-baik saja. Keberadaan pria itu di sekitanya saja sudah cukup membuat gadis itu dilanda keresahan, peristiwa yang mati-matian berusaha dilupakannya kini seperti mencuat ke permukaan. Terasa begitu menyakitkan. 
Memang, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dikhianati orang yang disayang dan dipercayainya.
Kamu sudah kotor, tidak pantas untuk pria manapun.
Queen merasakan tubuhnya menggigil hebat, ingatan itu selalu membuatnya ketakutan. Keberadaannya di sini mempertambah ketakutannya. Mama mendekap erat tubuh putrinya yang gemetar.
“Lho, Queen kenapa?” tanya Oma Sekar saat melihat Mama menuntun tubuh lemah anak gadisnya yang terlihat tidak sehat.
“Demam, Ma. Tubuhnya panas sekali, sampai menggigil begini,” jawab Mama mewakilinya.
“Ayo, ke kamar Amru saja, biar Queen bisa istirahat.” Tubuh Queen menegang dalam pelukan mamanya. “Bawa Queen masuk, Na! Tidak apa-apa, anak itu sudah tidak menghuni kamar ini lagi sejak memutuskan tinggal di Jakarta mengurus perusahaan papanya.”
Queen menggeleng lemah, matanya memanas. “Kita pulang aja, Ma. Queen mau pulang,” rengeknya sambil terisak. Ia tidak mau masuk ke dalam kamar Amru. Penyakitnya disebabkan oleh pria itu, bagaimana mungkin malah ia disuruh masuk ke dalam kamarnya.
Mama menghela napas, wanita itu menyeka air mata putrinya dengan lembut. “Sayang, Mama gak mungkin bawa kamu pulang dalam keadaan seperti ini. Queen istirahat dulu, kalau udah membaik baru Mama ajak pulang.”
Meski Queen menolaknya, pada akhirnya Mama tetap berhasil membawanya memasuki ruangan bernuansa abu-abu tersebut.
Tubuh Queen limbung, ia tidak suka suasana di dalam kamar tersebut. Kamar ini benar-benar membuatnya seperti kembali ke masa kecilnya, di mana sebenarnya ia sudah diincar sejak lama oleh Amru tanpa sepengetahuannya.
“Queen, tolong panggilkan Om Amru di kamarnya. Bilang sudah ditunggu buat sarapan.” 
Dengan semangat, Queen turun dari kursi makannya dan berlari ke kamar Amru. Gadis kecil itu mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama omnya.
“Om Amru, kata Oma Sekar sudah ditunggu buat sarapan.”
“Masuk sini, Win. Pintunya tidak dikunci, kok.”
Queen menekan handel pintu dan mendorongnya. “Queen udah laper banget, Oma bilang sarapan gak akan dimulai kalau semua belum kumpul.”
Amru terkekeh, tangannya memberi isyarat pada Queen agar mendekat. ”Sini dulu sama Om Amru, setelah itu Om Amru keluar biar gadis kecil ini tidak lagi kelaparan.”
Queen menurut. Kaki pendeknya melangkah mendekati pria yang selalu membelanya setiap ia membuat masalah. Begitu mendekat, Amru menarik tangan Queen dan memeluknya erat. Queen berontak.
“Om Amru tidak boleh menyentuh Queen!” protesnya sambil berusaha melepaskan diri. Tapi, Amru malah semakin erat mendekapnya, bahkan pria itu menempelkan pipinya yang penuh jambang tipis pada pipi tembam Queen yang putih bersih.
“Memangnya kenapa?” tanyanya sambil memejamkan mata. Queen mengernyit geli merasakan bulu-bulu kasar menggesek pipinya dan berusaha menjauhkan wajah Amru.
“Karena Om Amru tidak ada dalam daftar laki-laki yang boleh nyentuh Queen. Cuma Paman Fikri sama Mas Fadli yang boleh nyentuh Queen.”
Mama memang mengajarinya demikian. Mama memberi daftar nama siapa saja yang boleh menyentuhnya, dan Queen tidak boleh melanggarnya, karena Mama akan murka jika Queen sampai melanggarnya. Saat Queen tanya alasannya, Mama bilang karena perempuan itu adalah ratu, tidak boleh sembarangan disentuh laki-laki yang bukan mahramnya.
Dalam bayangan Queen, ia adalah sosok ratu yang memakai mahkota kecil di kepalanya seperti dalam kartun Disney yang biasa ia tonton, Mama setuju. Tentu saja Queen sangat senang menjadi ratu. 
Mama juga berpesan agar Queen  menjaga mahkota tersebut dengan baik, dengan cara tidak boleh membiarkan laki-laki lain selain orang-orang dalam daftar yang Mama kasih itu menyentuhnya. Karena, apa bila Queen membiarkan sembarang laki-laki menyentuhnya, maka ia akan kehilangan mahkotanya dan artinya Queen bukan lagi seorang ratu.
 Gadis itu benar-benar memegang teguh ajaran Mama. Ia tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya. Sehingga ketika Amru tak kunjung melepaskannya, Queen mulai berkaca-kaca. Ia takut tidak lagi menjadi ratu karena kehilangan mahkota kecil di kepalanya.
“Kalau gitu, masukkan Om Amru dalam daftar itu. Kamu itu sangat lucu dan menggemaskan, tidak mungkin Om Amru bisa untuk tidak menyentuhmu.” Queen menggeleng, kedua sudut mulutnya mulai menurun dengan dagu bergetar siap menangis. Amru menecubitnya dengan gemas.
“Ssh. Baiklah, baiklah. Sudah, jangan menangis. Ayo, kita makan!” Pada akhirnya Amru melepaskannya, setelah melayangkan sebuah kecupan di pipi tembam Queen. 
Oma Sekar menarik selimut bedcover dan meminta Mama membaringkan Queen di atas tempat tidur. “Queen tiduran dulu, ya. Oma ambilkan obat penurun panas.”
Mama membawa Queen dan setengah paksa membaringkan tubuhnya. Queen tersentak kembali bangun saat kepalanya menyentuh bantal bersarung putih polos itu.
Hidungnya mencium aroma Amru di sana, aroma yang sama yang menguar dari tubuh pria tersebut pada malam kejadian itu.
Queen tidak pernah melupakannya. Aroma ini pula yang ikut melekat di tubuhnya saat pria itu memeluknya, membuatnya merasa jijik dan mual setiap indera penciumannya membaui aroma tersebut.
Selamanya kamu akan menjadi bekasku. Senyum Amru seperti iblis yang berhasil menggoda anak adam untuk berbuat maksiat. Queen terisak pelan.
 “Queen mau pulang, Ma. Queen tidak mau di sini,” ratapnya sambil memeluk erat pinggang sang mama.
“Queen, jangan keras kepala seperti ini. Mama tidak mau kamu semakin sakit. Ayo kembali berbaring!”
Queen menggeleng, pelukannya semakin erat seolah takut Mama akan meninggalkannya di kandang singa yang akan menerkamnya sewaktu-waktu.
“Ini, Queen minum dulu obatnya. Demamnya biar cepet turun.” Oma Sekar muncul kembali sambil membawa sebutir obat penurun panas dan segelas air putih.
“Minum, biar lekas baikan. Setelah itu pulang!” perintah Mama.
Queen tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Gadis itu menelan obat yang diberikan oleh Oma Sekar. Tak lama kemudian, karena pengaruh obat tersebut Queen merasa kelopak matanya berat. Perlahan gadis itu memejamkan mata. Mama membaringkan tubuh putrinya dan menyelimutinya.
Beberapa saat kemudian Queen terlelap dengan aroma Amru yang melingkupinya.
BERSAMBUNG . . .
Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Sandal Jepit Cinderella #2

Next Post

7 Ide Bisnis Kreatif Terbaru yang Menjanjikan, Yuk mulai! – bisnis.cam

Related Posts