Sikap Istriku Berubah Drastis Setelah Aku Menikah Lagi #2

bisnis

Sikap Istriku Berubah Drastis Setelah Aku Menikah Lagi#2

#BAB 2

*
“Rumah, kafe, dan mobil itu harus atas namamu? Yang benar saja dong, Sayang. Masa isi perjanjiannya seperti ini?” Saya membulatkan mata saat membaca inti dari surat perjanjian yang disodorkan Zilva.
candaan tidak? Semua aset yang kupunya harus atas namanya, padahal selama ini justru dialah yang meminta untuk menuliskan namaku saja. Zilva terlalu penurut bahkan dia tidak pernah menolak apapun yang kuperintahkan asalkan tidak melarang aturanNya.
Oleh karena itu saya sangat senang dan tidak ada hubungan dengan lelaki lain yang dekat dengannya. Keputusanku untuk memintanya keluar dari pekerjaannya dulu kurasa adalah hal yang tepat. Mata lelaki di luar sana terlalu berbahaya untuk seorang Zilva yang cantik, pintar, dan energik.
Namun, sebagai satu-satunya anak laki-laki saya tidak bisa menolak permintaan mama begitu saja. Apalagi saya menyadari jika Zilva belum bisa menghadirkan buah hati seperti permintaan mama selama ini.
Dua tahun memang waktu penggambaran yang singkat, masih ada banyak waktu untuk mencoba lagi dan lagi, tapi bagi mama itu adalah waktu yang sangat lama hingga akhirnya aku terpaksa menyetujui permintaan mama untuk menikah dengan Lala sebagai permintaan terakhirnya.
“Ini permintaan mama yang terakhir, Ran. ceraikan. Jangan selalu mengalah pada perempuan itu, Ran. Bisa besar kepala dia!” sentak mama seminggu yang lalu saat masih terbaring di rumah sakit.
“Mama ‘kan tahu kalau Amran sangat mencintai Zilva, Ma. Berpoligami tentu akan menyakiti hatinya. Zilva menantu dan istri yang baik. Dia penurut, tak pernah membangkang, setia dan selalu membuat Amran tenang dan bahagia. Rasanya memiliki Zilva saja sudah cukup, Ma ,” elakku saat itu. Namun, mama terlihat murka saat mendengar jawabanku.
“Jangan bo doh, Ran. Hidup ini tak hanya sekedar cinta, tapi juga keturunan. Ingat masa depan, kamu akan kesepian tanpa celoteh riang anak-anak di rumahmu.” Mama kembali meyakinkan dan mengusik gundahku perihal keturunan.
“Soal itu Amran juga tahu, Ma, tapi mama lihat sendiri tes kesuburan dari dokter waktu itu kan? Zilva dan Amran tak mandul, kami sama-sama subur. Hanya saja Allah memang masih menginginkan kami pacaran halal lebih lama. Jadi, DIA belum mengamanahkan keturunan pada kami berdua,” balasku kembali meyakinkan mama yang mulai gelisah.
“Jangan durhaka! Pikirkan baik-baik apa yang mama ucapkan, Amran. Nikah dengan Lala atau kamu harus kesepian bertahun-tahun dengan Zilva yang tak jua memberimu keturunan itu. Jika kamu memang melamar mama, tentu ada masalah jika hanya menuruti permintaan mama kali ini. Lagi pula bukan permintaan buruk, justru permintaan enak buatmu,” sambung mama tak mau kalah.
Sehari, dua hari, tiga hari setelah mendengar permintaan mama itu akhirnya saya memberanikan diri untuk ngobrol empat mata dengan Zilva. Kemarin dia sudah mengizinkan saya untuk menikah asalkan saya mau kontrak yang dibuatnya.
Saat inilah saya menemukan isi kesepakatan yang tak terduga itu. Perjanjian yang terlalu
menguntungkannya jika kelak kamu tak lagi bersama. Aku tak mungkin akan melepaskannya, tapi apakah Zilva juga akan memikirkan hal yang sama sepertiku setelah aku benar-benar menikah dengan Lala?
“Zilva…ini terlalu memberatkanku,” ucapku lagi sembari menatap lekat wajah cantiknya yang berubah sendu sejak seminggu lalu.
“Kenapa berat, Mas? karena ada hakku di sana. Aku takut kamu khilaf dan berikan semuanya pada istri barumu,” ucap Zilva dengan mata berlinang.
Sebenarnya aku tak tega melihatnya seperti saat ini. Aku tahu cintanya teramat dalam. Saya yakin dia sengaja melakukan ini agar saya berpikir ulang tentang poligami itu. Dia sangat mencintaiku, karena itulah tak ingin aku menduakan cintanya. Jika tetap nekat, maka inilah jalan yang harus kupilih. Menyerahkan semua aset kurintis selama dua tahun ini untuknya.
Zilva tak salah. Dia memang berhak memiliki aset-aset itu karena semuanya ada setelah aku hidup diikat. Wajar jika dia tak rela Lala ikut menguasai harta yang kami punya.
“Kamu nggak mau poligami kan, Mas?” tanyanya lagi. Aku kembali menghela napas.
“Jika kamu tidak bisa menolak permintaan mama, tanda tangani saja perjanjian ini, Mas. Dengan begitu, aku bisa lebih tenang karena perempuan itu tidak akan mengusik harta dunia yang selama ini kita usahakan. Ingat, Mas. Meski aku tak bekerja, tapi aku tak lelah mendoakan keberhasilanmu. Bukankah kesuksesan suami tak lepas dari doa istrinya setiap hari?” Zilva kembali mengingatkan dan aku pun menyetujui ucapannya itu.
“Maaf, Sayang. Aku benar-benar tak bisa menolak permintaan mama karena itu adalah permintaan terakhirnya. Baiklah, jika memang perjanjian ini membuatmu lebih tenang, aku akan melakukannya. Janjilah aku tak akan meninggalkanku sendirian, Sayang. Aku sangat mencintaimu, kamu pasti tahu itu.”
Zilva tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis lalu memberikan bolpoinnya padaku. Saya tanda tangani kesepakatan itu dengan perasaan campur aduk.
Setelah selesai, lihat senyum tipis di bibir Zilva dan perempuan di sebelahnya. Dia bernama Arumi yang tak lain adalah sahabat Zilva dan seorang notaris yang mengatur perjanjian ini.
***
BERSAMBUNG . . .

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Sikap Istriku Berubah Drastis Setelah Aku Menikah Lagi #1

Next Post

Inilah 7 Cara Penting Membuka Usaha Rental PS Untuk Pemula

Related Posts