Ternyata Kaya 7 Turunan #3

bisnis
 

Herman Suhardiman

#BAB 3

SUAMIKU YANG DIHINAKAN KELUARGA TERNYATA KAYA 7 TURUNAN

Dari dalam dapur aku dengar, tidak ada satupun yang menjawab salam suamiku. Tidak dari orang-orang yang ada di ruang tamu, tidak juga dari saudara-saudaraku yang berdiri tidak jauh dari pintu dapur dan ruang tengah. Aku yang berada di pojok ruangan dekat kompor saja masih bisa mendengarkan.
Bapak dan ketiga saudara-saudaraku langsung menuju ke ruang tamu. Perasaanku gelisah, pasti mereka akan terus menghina dan menyudutkan Bang Riswan, bahkan jelas-jelasan bapak menunjukkan rasa ketidak sukaannya dengan suamiku, memintaku untuk meminta cerai kepada Bang Riswan, dan aku jelas-jelasan menolak mengikuti keinginannya. Apalagi alasannya karena kami miskin.
Aku mengangkat baskom tempat kumemarut kelapa ke depan pintu masuk dapur, yang berbatasan dengan ruang tengah, lalu melanjutkan pekerjaan memarut di situ. Aku hanya ingin mencuri dengar apa saja yang akan mereka katakan terhadap Bang Riswan.
“Anak-anakmu dari rumah tidak disiapkan sarapan Wan? Datang-datang langsung nyomot makanan di piring, macam anak-anak kurang jajan saja.” suara abangku Amran, sudah memulai pembicaraan yang bagiku terdengar menyakitkan. Tidak terdengar jawaban dari suamiku.
“Memangnya kamu tidak pernah ajarkan adab sama anak-anakmu, Wan? Main comot-comot makanan saja,” sindir bapak.
‘Ya Allah … bapak, anakku masih lima dan empat tahun, tadi saat aku ada di ruang tamu pun, kulihat ponakan-ponakan yang usianya jauh lebih besar bolak-balik mengambil jajanan pasar di piring tanpa ijin, tapi bapak diam saja’ rintih batinku.
“Maaf, Pak,” ucap Bang Riswan pelan. Dari pintu ruang tengah dan dapur tempatku memarut kelapa, terlihat jika suamiku hanya duduk bersila di lantai dekat pintu masuk rumah. Menunduk, dengan putri bungsuku Neti berada di pangkuannya.
“Wan, nanti kau ambilkan pupuk dari koperasi kelurahan, tiga karung antarkan ke rumah,” kata Bang Amran, kembali dalam hatiku beristighfar.
“Iya, Kang,” jawab Bang Riswan. Aku langsung bangun berdiri, kutinggalkan parutan kelapa yang tinggal sedikit.
‘Ini tidak bisa lagi dibiarkan’ teriak hatiku.
 Mereka seenaknya menghina dan merendahkan suamiku, tetapi selalu memanfaatkan tenaga suamiku secara gratisan. Sudah seringkali mereka memanfaatkan kebaikan Bang Riswan, tetapi masih terus menghina dan merendahkannya. Saudara-saudaraku memang tidak tahu diri.
Mencarikan rumput buat ternak mereka, membeli pakan ternak, dan kali ini di minta untuk membawa pupuk tiga karung, tetapi tidak pernah mengijinkan suamiku memakai kendaraan motor milik mereka untuk mengangkutnya. Hingga suamiku harus bolak-balik mengangkat karung satu persatu bolak-balik dengan berjalan kaki. Jangankan untuk memberikan uang lelah, ucapan terima kasih pun tidak terlontar dari mulut mereka.
Aku lantas berdiri, gegas melangkah ke ruang tamu yang hanya berjarak sekitar empat meter.
“Maaf, Kang Amran, aku tidak mengijinkan suamiku untuk mengangkut pupuk milikmu,” ucapku tegas. Berdiri di samping suamiku yang masih duduk bersila. 
Bapak melotot ke arahku tajam, Kang Amran sedikit terperangah, begitupun dengan Ela dan Samsiah.
“Kenapa kamu yang nolak, Riswannya sudah mau, kok,” kilah Amran.
“Iya, suamiku bersedia, karena tidak enak hati, kalian ini sering memanfaatkan tenaga suamiku, untuk kepentingan kalian sendiri, tanpa ada jasa imbal baliknya, yang ada kalian malah sering menghina Bang Riswan. Macam orang tidak punya malu!” sindirku, telak.
“Risma! Kurang ajar kamu yah!”bentak bapak.
Emak kulihat tergopoh-gopoh keluar dari dalam dapur.
“Neng, sabar Neng,” bujuk Bang Riswan, menenangkan aku.
“Sabar! Sabar! Kurang sabar apa kita Bang!” Suamiku yang sekarang jadi sasaran kekesalanku. 
“Eneng tuh cape Bang, kehidupan kita selalu dihina. Abang selalu direndahkan, tetapi tenaga Akang dimanfaatkan gratis oleh saudara-saudara eneng,” ucapku sembari terisak.
“Sudah, Neng, sudah yah,” ujar Kang Riswan, menenangkan.
“Abang kenapa sih, diam saja tidak mau melawan!” geramku pada Bang Riswan. Diam dia, menyaksikan aku marah seperti ini.
“Sudah Risma, malu banyak orang,” ucap emak menenangkan.
“Dasar si Risma nggak punya adab, kamu memang tidak mengajarkan adab sama istrimu, Wan! Sudah susah, miskin tata Krama,” sindir bapak.
“Dimata bapak, keluarga Risma nggak pernah dianggap benar,” keluhku pada bapak. Langsung berbalik badan ke arah Bang Riswan.
“Mungkin bagi Abang, sabar nggak ada batasnya, tapi bagiku nggak bisa, Bang … Sakit hatiku, Bang, mendengar Abang selalu direndahkan oleh saudara-saudara eneng,” jelasku terisak-isak.
Aku langsung menggendong si bungsu Neti. Berjalan cepat meninggalkan rumah emak, tanpa permisi lagi. Hatiku benar-benar terluka.
Terlihat suamiku Bang Riswan mengikuti dari belakang, juga sembari menggendong putri pertama kami, Yuli. Menjauhi rumah keluarga besarku.
Aku kesal dengan kesabaran suamiku.
Bersambung . . .
Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Tetangga Meresahkan #1

Next Post

Tetangga Meresahkan #2

Related Posts