Suamiku Hanya Mencintaiku Tidak Dengan Keluargaku #3

bisnis

Suamiku Hanya Mencintaiku Tidak Dengan Keluargaku#3

#BAB 3

*

Tok tok tok!

“Assalamualaikum,” sapaku saat sampai di depan ruang rawat inap ayah.

Ibu membuka pintu dan menyambutku dengan raut wajah yang begitu dingin. Aku tahu mungkin ada perasaan kecewa di dalam hati beliau setelah melihat aku mengantarkan ibu mertuaku pergi belanja.

Tanpa pikir panjang aku segera memeluk tubuh ibuku dan mengatakan semua hal yang membuatku terlambat datang ke rumah sakit ini. Serta bagaimana Mas Haris melarang aku pergi.

“Ya Allah, jahat sekali Haris. Ibu benar-benar nggak habis pikir, padahal tanpa orangtua kamu nggak akan pernah ada di dunia ini!” sentak ibu.

Aku menangis dipelukan ibu dan berusaha mengeluarkan segala lara di dalam hati ini. Setelah itu aku baru berjalan mendekat ke arah ayahku yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

Tangan beliau terikat selang infus sementara itu beberapa alat bantu pernapasan dan beberapa selang lainya pun ada di tubuh ayahku. Seolah menandakan bahwa keadaan beliau sudah semakin lemah.

Aku tidak pernah bisa membayangkan jika ada sesuatau yang buruk terjadi kepada ayah dan aku tidak sempat menjenguk beliau. Bagaimana aku bisa menyesali semuanya dan mungkin aku tidak akan pernah memafaakan diriku sendiri.

Tok tok tok!

Suasana haru tiba-tiba pecah karena suara ketukan di pintu. Aku segera bangkit dan melepaskan pelukan ibu, segera aku buka pintu ruang rawat inap ini.

“Kamu siapa?” tanyaku pada seorang pria yang ada tepat di depan pintu.

“Maaf, hp kamu ketinggalan tadi. Aku kejar kamu dan panggil-panggil kamu, tapi kamu nggak dengar.”

Ternyata pria itu adalah driver taksi online yang baru saja mengantarkan aku. Aku pikir dia sudah terlihat bapak-bapak, tapi ternyata aku salah. ia terlihat sangat mudah dan seperti sumuran denganku.

“Ok, terima kasih ya.”

Pria itu tersenyum, “salam buat ayah kamu ya, semoga lekas sembuh.”

Kini giliran aku yang tersenyum mendengar ucapan pria itu. Kemudian, ia pergi meinggalkan aku di ruangan ini. Setelah itu aku kembali ke dalam kamar untuk menemui ayah dan ibuku.

Satu jam setelah aku berada di rumah sakit tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselku. Panggilan dari nomor Mas Haris yang membuatku sedikit ragu unutk menyambungkannya.

Namun, aku harus berani menghadapi situasi ini karena bagaimanapun, aku tidak bisa terus menghindar dan menjauh dari masalah ini.

“Halo, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, kamu dimana?” tanya Mas Haris.

“Di rumah sakit,” jawabku singkat.

“Siapa yang izinin kamu pergi? kamu mau jadi istri durhaka? Kamu ini sudah nikah, dan sudah seharusnya kamu nurut sama aku. Saat ini derajat aku itu jauh lebih tinggi di bandingkan orangtua kamu!”

Mendengar kata-kata itu, seolah ada batu besar yang menimpa tepat di dadaku. Sakit dan sesak yang aku rasakan. Ya Allah, tega sekali Mas Harus mengatakan hal itu.

Tanpa menjawab apapun, aku matikan panggilan telepon dan membiarkan Mas Haris terus menghubungi aku. Ibu mengusap rambutku dan berusaha menguatkan aku.

Panggilan telepon tadi sengaja aku loud speaker agar ibu mendengar sendiri betapa Mas Haris sangat merendahkan aku selama ini.

Aku berusaha tidak ambil pusing dengan keadaan ini, jika memang Mas Haris ingin kami berpisah. Mungkin itu akan menjadi keputusan yang baik.

Namun, beberapa saat setelah panggilan itu tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke ruangan ini. Mas Haris datang dengan wajah penuh emosi.

“Pulang!” teriak Mas Haris.

Ia menarik tanganku dengan sangat kasarm tapi aku lepaskan tanganku dari cengkraman Mas Haris dan memperlihatkan foto yang sempat aku ambil di jalan tadi.

“Ini alasan kamu melarangku pergi tanpa izin kamu hah?!’

Mas Haris nampak terkejut saat melihat  foto tersebut. Mungkin ia lupa, sebelum ia menikahi aku, aku adalah wanita mandiri yang tidak pernah bergantung pada siapapun. Jadi, aku sama sekali tidak takut dengan apa yang hendak ia lakukan.

Aku bersikap manja dan lembah lembut di hadapanya selama ini karena aku menghargai dia dan mencintai dia dengan hatiku, tapi ia lupa bahwa aku punya sisi lain di dalam diri yang tidak pernah ia tahu.

Aku tidak akan pernah tinggal diam, saat ketulusanku sudah dibalas dengan pengkhianatan.

BERSAMBUNG . . .

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Suamiku Hanya Mencintaiku Tidak Dengan Keluargaku #2

Next Post

Tips Memulai Bisnis kue kering | Temukan bahan untuk bisnis yang sukses

Related Posts