Ketika Kartu ATM Dibekukan Istri #1

bisnis
 
Author Ha
#BAB 1

Awal Mula Tekanan Mental

“Dani, hari ini kita jadi kan ya ke Mall. Ibu udah ga sabar nih mau borong pakaian. Terus Ibu juga mau beli perhiasan dan ganti anting baru.” ucap Ibu diambang pintu, aku menoleh dan tersenyum hangat padanya. 
Hari ini aku berencana mengajak keluargaku pergi ke mall, mumpung gajian, biar makan sehari-hari menggunakan uang Sekar—Istriku. Toh, dia juga kerja.
“Aku juga di ajak kan Bang, Maya juga mau beli tas branded. Sekali-kali lah Bang beliin.” sahut Maya—adikku. Ia mengerucutkan bibirnya cemberut. 
Aku berjalan menghampiri mereka, lalu merangkul pundak Ibu dan Maya.
Aku sudah membagi rata gajiku,lima ratus ribu kuberikan pada Sekar, yah lumayan lah buat tambahan beli beras, sisanya Sekar yang cari. 
“Ibu sama Maya ga usah khawatir, hari ini kita pergi belanja, terserah kalian mau beli apa.” jawabku. 
Tak perlu kuulangi, dua perempuan ini langsung berlari ke kamar masing-masing. 
Aku merapikan rambut sambil bersenandung. Menyemprotkan parfum pada bajuku. Lalu, mengambil dompet. 
Aku melihat dompet Sekar tergeletak di nakas, tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kartu ATM-nya. 
Uang Istri, uang suami juga. Begitulah dalih yang kukatakan tiap kali Sekar bertanya tentang uangnya. 
Ia seorang sekretaris di perusahaan besar, tentu gajinya tidak lah sedikit. Oleh sebab itu aku masih mempertahankan dia sebagai Istriku. Selain untuk beres-beres rumah, ia juga bisa ku manfaatkan sebagai ATM berjalan.
Aku menyeringai, lalu meletakkan dompet Sekar di posisi semula. Kemudian melangkahkan kaki keluar kamar. 
****
“Mau kemana kamu Bang?” tanya Sekar yang sedang cuci piring. 
Aku memutar bola mata malas, enggan meladeninya. Tapi ya sudahlah, apa susahnya di jawab. 
“Hari ini kita mau ke Mall ya kan, Dan?” sela Ibu, aku mengangguk. 
Sekar nampak berpikir, ia menatapku intens. “Udah ayo Bang, Maya ga sabar mau belanja,” ajak Maya menarik tanganku, sedangkan Ibu langsung mengekoriku. 
Aku menoleh, Sekar nampak tersenyum tipis, lalu geleng-geleng kepala. Ia kembali melanjutkan kegiatannya mencuci piring di wastafel. 
***
Ibu masuk ke dalam mobil, di susul Maya, segera aku melajukan kendaraan roda empat ini membelah jalan raya. 
“Bisa cepat ga sih Dan, Ibu udah ga sabar ini.” kesal Ibu menepuk pundakku. 
“Iya Bang, tambah lagi dong kecepatannya.” 
Aku menghela napas dalam-dalam, lantas menambah kecepatan mobil agar cepat sampai di Mall.
“Kita borong semuanya ya May, besok Ibu ada arisan, Ibu mau pamer aaah.”
 
“Bener Bu, kita juga harus beli perhiasan. Ibu harus minta dibelikan sama Bang Dani berlian.” aku masih mendengar obrolan mereka. 
Ada-ada saja hasutan Maya. 
Jika Ibu minta dibelikan berlian, akan kubelikan menggunakan uang Sekar yang ada di ATM. Kan tadi aku mengambil ATM khusus tabungan Sekar selama ini. 
***
Tak butuh waktu lama, mobil tiba di parkiran Mall. Ibu dan Maya gegas turun, mereka berdua langsung berlari masuk. 
“Cepetan Dan,” teriak Ibu, buru-buru aku menyusul mereka. 
Aku melihat Maya dan Ibu asyik berbelanja, mereka mengambil berbagai model pakaian, tas, dan juga sepatu tanpa melihat harganya berapa. 
“Udah cukup May, itu udah banyak.” peringatku pada Maya. Ia mendengkus kasar dan mengembalikan tas yang hendak ia ambil. 
“Pelit amat, sih Bang, cuman tas doang.” sewotnya. 
“Bukan itu May, lihat harganya berapa? 100 juta, duit sebanyak itu mau kamu belikan tas. Udah ambil yang lainnya aja.” jelasku, Maya menurut, ia menghampiri ibu. 
Hampir dua jam mereka belanja, dan tiba saatnya menuju kasir. 
Ibu dan Maya nampak berfoto-foto, aku memijat pelipisku yang tiba-tiba berdenyut nyeri. 
“Berapa Mbak total belanjaannya?” tanyaku pada pegawai kasir. 
“354 juta semuanya Pak.” seketika aku melongo, 354 juta. Ya Tuhan, Ibu dan Maya kalian berdua ini. 
Aku merogoh kantong celana, mengeluarkan kartu ATM ku. Lalu kuserahkan pada pegawai kasir. 
“Mohon maaf Pak, apa ada kartu ATM yang lain, ini isinya kosong.” serunya.
Aku terkejut sekaligus bingung, bukannya kemarin gajiku di transfer ke ATM itu. 
“Coba lagi Mbak, siapa tahu salah lihat.” elakku.
“Sudah Pak, tetap tidak bisa.”  protesnya. 
Kuusap wajah kasar, lalu memastikan apa benar Atmku kosong. 
Damn, benar saja.
Astaga pasti ini perbuatannya Sekar. 
Aku memberikan kartu ATM Sekar pada pegawai kasir. Dan hasilnya sama. Malah kartu Atm Sekar telah di bekukan.
Waduh, bagaimana ini. Mana belanjaan Ibu sebanyak ini?
Next?
Bersambung . . .

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Ide Bisnis Aneka Minuman Segar untuk Usaha Kekinian ala Cafe

Next Post

Ketika Kartu ATM Dibekukan Istri #2

Related Posts